Porosnegri.id, Palembang – Ketua Umum Forum Suara Mahasiswa Sumatera Selatan (FORSUMA), M. Yoga Prasetyo, menyoroti ketidak seriusan sistem pengawasan terhadap infrastruktur strategis di Sumsel, menyusul ambruknya Jembatan Muara Lawai di Kecamatan Merapi Timur, Kabupaten Lahat, Minggu (29/6/2025) malam.
Yoga menyebut peristiwa itu mencerminkan masih minimnya kepatuhan terhadap ketentuan teknis penggunaan infrastruktur publik, khususnya jalan dan jembatan yang dilintasi angkutan berat seperti truk batubara.
“Kalau pengawasan dilakukan secara ketat dan sesuai aturan, serta ada pembatasan jelas terkait tonase kendaraan, insiden seperti ini seharusnya tidak terjadi,” kata Ketua Umum Forsuma Sumsel, Senin (7/7/2025).
Menurutnya, insiden robohnya jembatan akibat truk bermuatan batubara yang melebihi kapasitas beban menunjukkan ketidak seriusan dan terkesan main main dalam sistem kontrol dan penegakan aturan di lapangan. Ia juga berpandangan tidak adanya deteksi dini atau langkah preventif dari instansi teknis terkait.
“Ini bukan hanya soal kerusakan fisik, tapi juga menunjukkan kelemahan tata kelola infrastruktur. Kejadian seperti ini harus menjadi bahan evaluasi baik dari pemerintah kabupaten hingga pemerintah provinsi,” ujarnya.
Yoga juga mendesak agar pemerintah daerah segera memperkuat pengawasan, termasuk dengan memasang sensor beban, pos timbang permanen, dan inspeksi rutin di jalur-jalur strategis.
Lebih lanjut, ia menyarankan agar Pemprov Sumsel wajib membuat regulasi teknis dalam bentuk Peraturan Gubernur (Pergub) yang mengatur standar penggunaan infrastruktur publik berdasarkan kapasitas riil.
“Tanpa regulasi yang jelas dan sanksi tegas, kejadian serupa bisa kembali terulang. Infrastruktur publik bukan untuk dikorbankan demi kepentingan ekonomi segelintir pihak,” tegasnya.
Sebagai tindak lanjut jangka pendek, Yoga juga mendorong percepatan perbaikan Jembatan Muara Lawai agar akses masyarakat tidak terganggu terlalu lama.
