Kecam Framing Murahan terhadap Mahasiswa UIN: Tak Turun Aksi, Tapi Paling Ribut Menuduh, Penonton Jangan Sok Jadi Juri

PALEMBANG – Munculnya sejumlah narasi yang mencoba menggiring opini publik bahwa aksi mahasiswa UIN Raden Fatah Palembang “masuk angin” karena tidak mengangkat isu tertentu secara eksplisit dalam orasi dinilai sebagai bentuk framing yang tidak sehat dan berpotensi mendiskreditkan gerakan mahasiswa.

Aktivis muda Sumatera Selatan, Anwarul Fitro, mengecam keras upaya-upaya yang sengaja membangun persepsi negatif terhadap mahasiswa yang telah turun langsung menyuarakan aspirasi masyarakat di depan DPRD Provinsi Sumatera Selatan. Menurutnya, kritik terhadap substansi aksi merupakan hal yang wajar dalam demokrasi, namun menyebarkan tuduhan tanpa memahami keseluruhan rangkaian aksi merupakan tindakan yang tidak bertanggung jawab.

“Yang sangat disayangkan adalah munculnya pihak-pihak yang justru sibuk membuat framing dan prasangka negatif dari balik layar, sementara mereka sendiri tidak ikut turun ke lapangan, tidak terlibat dalam proses konsolidasi, bahkan tidak mengetahui secara utuh dinamika aksi yang terjadi,” tegasnya.

Ia menilai gerakan mahasiswa tidak boleh dihakimi hanya berdasarkan potongan video, cuplikan orasi, ataupun narasi sepihak yang beredar di media sosial. Sebab, setiap aksi memiliki mekanisme, strategi penyampaian isu, serta keterbatasan waktu yang tidak selalu memungkinkan seluruh poin tuntutan disampaikan secara rinci di hadapan massa.

Lebih lanjut, Anwarul menegaskan bahwa budaya saling menjatuhkan antar sesama elemen perjuangan hanya akan melemahkan gerakan rakyat. Perbedaan pandangan seharusnya disampaikan melalui ruang diskusi dan argumentasi yang sehat, bukan dengan menyebarkan tuduhan yang dapat merusak kepercayaan publik terhadap gerakan mahasiswa.

“Kami mengutuk keras segala bentuk framing negatif yang bertujuan mendiskreditkan mahasiswa. Jika ada kritik, sampaikan secara terbuka dan bertanggung jawab. Jangan menjadi penonton yang hanya pandai mencari kesalahan setelah aksi selesai, tetapi tidak pernah hadir ketika perjuangan itu berlangsung,” ujarnya.

Menurutnya, mahasiswa yang turun ke jalan telah menunjukkan keberanian dan komitmen dalam menyampaikan aspirasi publik. Oleh karena itu, seluruh pihak diharapkan dapat menjaga etika dalam menyampaikan kritik serta tidak menjadikan perbedaan strategi perjuangan sebagai alasan untuk menyerang integritas gerakan mahasiswa.

“Gerakan mahasiswa adalah pilar penting demokrasi. Jangan biarkan semangat perjuangan mahasiswa dirusak oleh opini-opini yang dibangun atas dasar asumsi, prasangka, dan kepentingan tertentu,” tutupnya.

Exit mobile version